Selasa, 16 April 2013

laporan praktikum ilmu nutrisi ternak


Terimah kasih sudah mau mengunjungi blog saya
Laporan ini saya dapatkan di tugas tugas kuliah saya
Semoga bermanfaat
LAPORAN PRAKTIKUM ILMU NUTRISI TERNAK

JUDUL : Analisis Proksimat
PENDAHULUAN
A.    Dasar teori
Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan dan dicerna sebagian atau seluruhnya tanpa mengganggu kesehatan ternak yang memakannya. Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan maupun untuk mempertahankan hidupnya. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan, agar ternak dapat tumbuh sesuai dengan yang diharapkan. Pakan yang diberikan pada ternak harus mengandung nutrien yang dapat memenuhi kebutuhan ternak. Analisis proksimat merupakan salah satu cara untuk mengetahui kandungan-kandungan nutrien yang ada di dalam bahan pakan. Analisis proksimat digunakan untuk mengetahui kandungan air, abu, serat kasar, lemak kasar, protein kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) yang terkandung dalam bahan pakan.

B.     Manfaat dan tujuan
Manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat melakukan analisis bahan pakan menggunakan metode analisis proksimat
Tujuan dari Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum adalah agar mahasiswa terampil dalam melakukan analisis proksimat.
TINJAUAN PUSTAKA
a.       Analisis Proksimat
Analisis proksimat merupakan metode yang tidak menguraikan kandungan nutrien secara rinci, namun berupa nilai perkiraan (Soejono, 1990). Metode ini dikembangkan oleh Henneberg dan Stockman dari Weende Experiment Station di Jerman pada tahun 1865 (Tillman et al., 1991).
Analisis makronutrien analisis proksimat meliputi kadar abu total, air total, lemak total, protein total dan karbohidrat total, sedangkan untuk kandungan mikronutrien difokuskan pada provitamin A (β-karoten) (Sudarmadji et al., 1996). Analisis vitamin A dan provitamin A secara kimia dalam buah-buahan dan produk hasil olahan dapat ditentukan dengan berbagai metode diantaranya kromatografi lapis tipis, kromatografi kolom absorpsi, kromatografi cair kinerja tinggi, kolorimetri dan spektrofotometri sinar tampak (Winarno, 1997).
b.      Air
Banyaknya kadar air dalam suatu bahan pakan dapat diketahui bila bahan pakan tersebut dipanaskan pada suhu 105C. Bahan kering dihitung sebagai selisih antara 100% dengan persentase kadar air suatu bahan pakan yang dipanaskan hingga ukurannya tetap (Anggorodi, 1994). Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berat kering (dry basis). Metode pengeringan melalui oven sangat memuaskan untuk sebagian besar makanan, akan tetapi beberapa makanan seperti silase, banyak sekali bahan-bahan atsiri (bahan yang mudah terbang) yang bisa hilang pada pemanasan tersebut (Winarno, 1997).
c.       Abu
Jumlah abu dalam bahan pakan hanya penting untuk menentukan perhitungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Soejono, 1990). Kandungan abu ditentukan dengan cara mengabukan atau membakar bahan pakan dalam tanur, pada suhu 400-600oC sampai semua karbon hilang dari sampel, dengan suhu tinggi ini bahan organik yang ada dalam bahan pakan akan terbakar dan sisanya merupakan abu yang dianggap mewakili bagian inorganik makanan. Namun, abu juga mengandung bahan organik seperti sulfur dan fosfor dari protein, dan beberapa bahan yang mudah terbang seperti natrium, klorida, kalium, fosfor dan sulfur akan hilang selama pembakaran. Kandungan abu dengan demikian tidaklah sepenuhnya mewakili bahan inorganik pada makanan baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif (Anggorodi, 1994).
d.      Serat Kasar
Fraksi serat kasar mengandung selulosa, lignin, dan hemiselulosa tergantung pada species dan fase pertumbuhan bahan tanaman (Anggorodi, 1994). Pakan hijauan merupakan sumber serta kasar yang dapat merangsang pertumbuhan alat-alat pencernaan pada ternak yang sedang tumbuh. Tingginya kadar serat kasar dapat menurunkan daya rombak mikroba rumen (Farida, 1998).
Cairan retikulorumen mengandung mikroorganisme, sehingga ternak ruminasia mampu mencerna hijauan termasuk rumput-rumputan yang umumnya mengandung selulosa yang tinggi (Tillman et al., 1991). Langkah pertama metode pengukuran kandungan serat kasar adalah menghilangkan semua bahan yang terlarut dalam asam dengan pendidihan dengan asam sulfat bahan yang larut dalam alkali dihilangkan dengan pendidihan dalam larutan sodium alkali. Residu yang tidak larut adalah serat kasar (Soejono, 1990).
e.       Lemak Kasar
Kandungan lemak suatu bahan pakan dapat ditentukan dengan metode soxhlet, yaitu proses ekstraksi suatu bahan dalam tabung soxhlet (Soejono, 1990). Lemak yang didapatkan dari analisis lemak ini bukan lemak murni. Selain mengandung lemak sesungguhnya, ekstrak eter juga mengandung waks (lilin), asam organik, alkohol, dan pigmen, oleh karena itu fraksi eter untuk menentukan lemak tidak sepenuhnya benar (Anggorodi, 1994). Penetapan kandungan lemak dilakukan dengan larutan heksan sebagai pelarut. Fungsi dari n heksan adalah untuk mengekstraksi lemak atau untuk melarutkan lemak, sehingga merubah warna dari kuning menjadi jernih (Mahmudi, 1997).
f.       Protein Kasar
Protein merupakan salah satu zat makanan yang berperan dalam penentuan produktivitas ternak. Jumlah protein dalam pakan ditentukan dengan kandungan nitrogen bahan pakan kemudian dikali dengan faktor protein 6,25. Angka 6,25 diperoleh dengan asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen. Kelemahan analisis proksimat untuk protein kasar itu sendiri terletak pada asumsi dasar yang digunakan. Pertama, dianggap bahwa semua nitrogen bahan pakan merupakan protein, kenyataannya tidak semua nitrogen berasal dari protein dan kedua, bahwa kadar nitrogen protein 16%, tetapi kenyataannya kadar nitrogen protein tidak selalu 16% (Soejono, 1990). Menurut Siregar (1994) senyawa-senyawa non protein nitrogen dapat diubah menjadi protein oleh mikrobia, sehingga kandungan protein pakan dapat meningkat dari kadar awalnya. Sintesis protein dalam rumen tergantung jenis makanan yang dikonsumsi oleh ternak. Jika konsumsi N makanan rendah, maka N yang dihasilkan dalam rumen juga rendah. Jika nilai hayati protein dari makanan sangat tinggi maka ada kemungkinan protein tersebut didegradasi di dalam rumen menjadi protein berkualitas rendah.
g.      Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)
Kandungan BETN suatu bahan pakan sangat tergantung pada komponen lainnya, seperti abu, protein kasar, serat kasar dan lemak kasar. Jika jumlah abu, protein kasar, esktrak eter dan serat kasar dikurangi dari 100, perbedaan itu disebut bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) (Soejono, 1990). BETN merupakan karbohidrat yang dapat larut meliputi monosakarida, disakarida dan polisakarida yang mudah larut dalam larutan asam dan basa serta memiliki daya cerna yang tinggi (Anggorodi, 1994).

MATERI DAN METODE
1.      Waktu dan tempat
Waktu yang saya gunakan untuk praktimum ini yaitu pada hari senin sampai selasa 8 desember 2012, bertempat di lab fakultas peternakan universitas samratulangi manado.
2.      Alat yang digunakan
Adapun alat-alat yang saya gunakan dalam praktikum ini yaitu :
a.       Penetapan Kadar Air
Alat yang digunakan :
o   Cawan porselin
o   Neraca analitik
o   Gegep
o   Oven
o   Desikator
b.      Penetapan kadar abu
Alat yang digunakan :
o   Cawan porselin
o   Gegep tanur listrik
o   Desikator
o   Neraca analitik
c.       Penetapan kadar protein kasar
Alat yang digunakan :
o   Labu khjedhal 100 ml
o   Labu ukur 100 ml
o   Labu semprot
o   Alat penyuling nitrogen dengan kelengkapannya
o   Pemanas listrik
o   Lemari asam
o   Buret asam pompa pengisap Erlenmeyer
d.      Penetapan kadar lemak
Alat yang digunakan :
Tabung yang berskala 100 ml  Oven
Corong                                                  Desikator
Pipet skala 5 cc                                     Pipet pengisap
Cawan porselin                                     Gegep
Neraca analitik

e.       Penetapan kadar serat kasar
Alat yang digunakan :
Neraca analitik                        pompa vakum
Oven  alat                                pemanas air
Tanur listrik                             gelas piala
Sintered glass no 1                  desikator
Tabung reaksi bertutup           gegep
Gelas ukur
3.      Bahan yang digunakan
a.       Penetapan kadar protein kasar
Bahn kimia yang digunakan :
H2SO4                Campuran selenium
H3BO3 2%          Pekat larutan asam sulfat atau HCL 0, 0222 N 
b.      Penetapan kadar lemak
Bahan kimia yang digunakan :
o   Chloroform atau pelarut lemak lain

c.       Penetapan serat kasar
Bahan yang digunakan :
o  H2SO4 0,3 N
o  NaOH 1,5 N
o  Alcohol teknis

4.      Prosedur kerja
a.       Penetapan kadar air
Cara kerja :
o   Cawan perselin yang telah bersih di oven pada suhu 105 0C selama 2 jam.
o   Dinginkan dalam desikator selama ½ jam kemudian di timbang (a gram)
o   Ke dalam cawan porselin ditimbang lebih kurang 1 gram contoh (cawan porselin + contoh = b gram)
o   Ovenkan pada suhu 105 0c selama 8 jam atau di biarkan bermalam dinginkan dalam desikator selama ½ jam kemudian timbang (c gram)
b.      Penentuan kadar abu
Cara kerja :
o   Cawan porselin beserta contoh dalam penetapan kadar air dimasukkan kedalam tanur listrik
o   Suhunya diatur menjadi 600 0C kemudian dibiarkan 3 jam sampai menjadi abu betul ( untuk mempercepat proses pengabuan sekali-kali tanur dibuka
o   Dibiarkan agak dingin kemudian dimasukkan ke dalam desikator selama ½ jam
o   Timbang (d gram)

c.       Penetapan kadar protein
Cara kerja :
o   Timbang dengan tegramliti lebih kurang 0,5 gram contoh
o   Masukan kedalam labu khjedhal 100 ml
o   Tambahkan lebih kurang 1 gram campuran selenium dan 10 ml H2SO4 pekat teknik
o   Labu khjedhal bersama isinya digoyangkan sampai semua contoh terbatasi dengan H2SO4
o   Destruksi dalam lemari asam sampai jernih
o   Biarkan dingin kemudian tuang dalam labu ukur 100 ml di bilas dengan air suling.
o   Biarkan dingin kemudian impitkan pada tanda garis dengan air suling
o   Siapkan penampung yang terdiri dari 10 ml H3BO3 2% + 4 tetes larutan indicator campuran dalam Erlenmeyer 100 ml
o   Pipet 5 ml larutan naoh 30 % dan 100 ml air suling
o   Suling hingga volume penampung menjadi lebih kurang 50 ml
o   Bilas ujung penyuling dengan air suling kemudian penampung bersama isinya dititrasi dengan larutan hcl atau H2SO4 0,0222
d.      Penetapan kadar lemak
Cara kerja :
o   Timbang lebih kurang 0,5 gram contoh
o   Masukkan ke dalam tabung reaksi berskala 10 ml
o   Tambahkan chloroform mendekati skala
o   Tutup rapat kemudian kocok dan biarkan bermalam
o   Impitkan dengan tanda skala 10 ml dengan pelarut lemak yang sama (pakai pipet)
o   Kocok sampai homogen
o   Saring dengan kertas tissue ke dalam tabung reaksi
o   Pipet 5 cc ke dalam cawan yang telah diketahui beratnya (a gram)
o   Ovenkan pada suhu 100 0C selama 3 jam
o   Masukkan ke dalam desikator lebih kurang 30 menit
o   Kemudian timbang (b gram)
e.       Penetapan kadar serat kasar
Cara kerja :
o   Timbang lebih kurang 0,4 gram contoh ke dalam tabung reaksi tertutup
o   Tambah 30 ml H2SO4 0,3 N
o   Ekstraksi dalam air mendidih selama 30 menit
o   Tambah 15 ml naoh 1,5 n
o   Ekstraksi dalam air mendidih selama 30 menit
o   Saring ke dalam sintered glass no 1 sambil diisap dengan pompa vakum
o   Cuci berturut-turut dengan 50 cc air panas, 50 cc h2SO4 0,3 N, 50 cc air panas dan 50 cc alcohol
o   Keringkan dalam oven 8 jam atau biarkan bermalam
o   Dinginkan dalam desikator selama ½ jam kemudian timbang (a gram)
o   Biarkan dingin kemudian masukan dalam desikator selama ½ jam di timbang ( b gram)

C.     Hasil dan pembahasan
Pengenalan bahan













Terimah kasih sudah mau mengunjungi blog saya
Laporan ini saya dapatkan di tugas tugas kuliah saya
Semoga bermanfaat
LAPORAN PRAKTIKUM ILMU NUTRISI TERNAK

JUDUL : Analisis Proksimat
PENDAHULUAN
A.    Dasar teori
Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan dan dicerna sebagian atau seluruhnya tanpa mengganggu kesehatan ternak yang memakannya. Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan maupun untuk mempertahankan hidupnya. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan, agar ternak dapat tumbuh sesuai dengan yang diharapkan. Pakan yang diberikan pada ternak harus mengandung nutrien yang dapat memenuhi kebutuhan ternak. Analisis proksimat merupakan salah satu cara untuk mengetahui kandungan-kandungan nutrien yang ada di dalam bahan pakan. Analisis proksimat digunakan untuk mengetahui kandungan air, abu, serat kasar, lemak kasar, protein kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) yang terkandung dalam bahan pakan.

B.     Manfaat dan tujuan
Manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat melakukan analisis bahan pakan menggunakan metode analisis proksimat
Tujuan dari Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum adalah agar mahasiswa terampil dalam melakukan analisis proksimat.
TINJAUAN PUSTAKA
a.       Analisis Proksimat
Analisis proksimat merupakan metode yang tidak menguraikan kandungan nutrien secara rinci, namun berupa nilai perkiraan (Soejono, 1990). Metode ini dikembangkan oleh Henneberg dan Stockman dari Weende Experiment Station di Jerman pada tahun 1865 (Tillman et al., 1991).
Analisis makronutrien analisis proksimat meliputi kadar abu total, air total, lemak total, protein total dan karbohidrat total, sedangkan untuk kandungan mikronutrien difokuskan pada provitamin A (β-karoten) (Sudarmadji et al., 1996). Analisis vitamin A dan provitamin A secara kimia dalam buah-buahan dan produk hasil olahan dapat ditentukan dengan berbagai metode diantaranya kromatografi lapis tipis, kromatografi kolom absorpsi, kromatografi cair kinerja tinggi, kolorimetri dan spektrofotometri sinar tampak (Winarno, 1997).
b.      Air
Banyaknya kadar air dalam suatu bahan pakan dapat diketahui bila bahan pakan tersebut dipanaskan pada suhu 105C. Bahan kering dihitung sebagai selisih antara 100% dengan persentase kadar air suatu bahan pakan yang dipanaskan hingga ukurannya tetap (Anggorodi, 1994). Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berat kering (dry basis). Metode pengeringan melalui oven sangat memuaskan untuk sebagian besar makanan, akan tetapi beberapa makanan seperti silase, banyak sekali bahan-bahan atsiri (bahan yang mudah terbang) yang bisa hilang pada pemanasan tersebut (Winarno, 1997).
c.       Abu
Jumlah abu dalam bahan pakan hanya penting untuk menentukan perhitungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Soejono, 1990). Kandungan abu ditentukan dengan cara mengabukan atau membakar bahan pakan dalam tanur, pada suhu 400-600oC sampai semua karbon hilang dari sampel, dengan suhu tinggi ini bahan organik yang ada dalam bahan pakan akan terbakar dan sisanya merupakan abu yang dianggap mewakili bagian inorganik makanan. Namun, abu juga mengandung bahan organik seperti sulfur dan fosfor dari protein, dan beberapa bahan yang mudah terbang seperti natrium, klorida, kalium, fosfor dan sulfur akan hilang selama pembakaran. Kandungan abu dengan demikian tidaklah sepenuhnya mewakili bahan inorganik pada makanan baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif (Anggorodi, 1994).
d.      Serat Kasar
Fraksi serat kasar mengandung selulosa, lignin, dan hemiselulosa tergantung pada species dan fase pertumbuhan bahan tanaman (Anggorodi, 1994). Pakan hijauan merupakan sumber serta kasar yang dapat merangsang pertumbuhan alat-alat pencernaan pada ternak yang sedang tumbuh. Tingginya kadar serat kasar dapat menurunkan daya rombak mikroba rumen (Farida, 1998).
Cairan retikulorumen mengandung mikroorganisme, sehingga ternak ruminasia mampu mencerna hijauan termasuk rumput-rumputan yang umumnya mengandung selulosa yang tinggi (Tillman et al., 1991). Langkah pertama metode pengukuran kandungan serat kasar adalah menghilangkan semua bahan yang terlarut dalam asam dengan pendidihan dengan asam sulfat bahan yang larut dalam alkali dihilangkan dengan pendidihan dalam larutan sodium alkali. Residu yang tidak larut adalah serat kasar (Soejono, 1990).
e.       Lemak Kasar
Kandungan lemak suatu bahan pakan dapat ditentukan dengan metode soxhlet, yaitu proses ekstraksi suatu bahan dalam tabung soxhlet (Soejono, 1990). Lemak yang didapatkan dari analisis lemak ini bukan lemak murni. Selain mengandung lemak sesungguhnya, ekstrak eter juga mengandung waks (lilin), asam organik, alkohol, dan pigmen, oleh karena itu fraksi eter untuk menentukan lemak tidak sepenuhnya benar (Anggorodi, 1994). Penetapan kandungan lemak dilakukan dengan larutan heksan sebagai pelarut. Fungsi dari n heksan adalah untuk mengekstraksi lemak atau untuk melarutkan lemak, sehingga merubah warna dari kuning menjadi jernih (Mahmudi, 1997).
f.       Protein Kasar
Protein merupakan salah satu zat makanan yang berperan dalam penentuan produktivitas ternak. Jumlah protein dalam pakan ditentukan dengan kandungan nitrogen bahan pakan kemudian dikali dengan faktor protein 6,25. Angka 6,25 diperoleh dengan asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen. Kelemahan analisis proksimat untuk protein kasar itu sendiri terletak pada asumsi dasar yang digunakan. Pertama, dianggap bahwa semua nitrogen bahan pakan merupakan protein, kenyataannya tidak semua nitrogen berasal dari protein dan kedua, bahwa kadar nitrogen protein 16%, tetapi kenyataannya kadar nitrogen protein tidak selalu 16% (Soejono, 1990). Menurut Siregar (1994) senyawa-senyawa non protein nitrogen dapat diubah menjadi protein oleh mikrobia, sehingga kandungan protein pakan dapat meningkat dari kadar awalnya. Sintesis protein dalam rumen tergantung jenis makanan yang dikonsumsi oleh ternak. Jika konsumsi N makanan rendah, maka N yang dihasilkan dalam rumen juga rendah. Jika nilai hayati protein dari makanan sangat tinggi maka ada kemungkinan protein tersebut didegradasi di dalam rumen menjadi protein berkualitas rendah.
g.      Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)
Kandungan BETN suatu bahan pakan sangat tergantung pada komponen lainnya, seperti abu, protein kasar, serat kasar dan lemak kasar. Jika jumlah abu, protein kasar, esktrak eter dan serat kasar dikurangi dari 100, perbedaan itu disebut bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) (Soejono, 1990). BETN merupakan karbohidrat yang dapat larut meliputi monosakarida, disakarida dan polisakarida yang mudah larut dalam larutan asam dan basa serta memiliki daya cerna yang tinggi (Anggorodi, 1994).

MATERI DAN METODE
1.      Waktu dan tempat
Waktu yang saya gunakan untuk praktimum ini yaitu pada hari senin sampai selasa 8 desember 2012, bertempat di lab fakultas peternakan universitas samratulangi manado.
2.      Alat yang digunakan
Adapun alat-alat yang saya gunakan dalam praktikum ini yaitu :
a.       Penetapan Kadar Air
Alat yang digunakan :
o   Cawan porselin
o   Neraca analitik
o   Gegep
o   Oven
o   Desikator
b.      Penetapan kadar abu
Alat yang digunakan :
o   Cawan porselin
o   Gegep tanur listrik
o   Desikator
o   Neraca analitik
c.       Penetapan kadar protein kasar
Alat yang digunakan :
o   Labu khjedhal 100 ml
o   Labu ukur 100 ml
o   Labu semprot
o   Alat penyuling nitrogen dengan kelengkapannya
o   Pemanas listrik
o   Lemari asam
o   Buret asam pompa pengisap Erlenmeyer
d.      Penetapan kadar lemak
Alat yang digunakan :
Tabung yang berskala 100 ml  Oven
Corong                                                  Desikator
Pipet skala 5 cc                                     Pipet pengisap
Cawan porselin                                     Gegep
Neraca analitik

e.       Penetapan kadar serat kasar
Alat yang digunakan :
Neraca analitik                        pompa vakum
Oven  alat                                pemanas air
Tanur listrik                             gelas piala
Sintered glass no 1                  desikator
Tabung reaksi bertutup           gegep
Gelas ukur
3.      Bahan yang digunakan
a.       Penetapan kadar protein kasar
Bahn kimia yang digunakan :
H2SO4                Campuran selenium
H3BO3 2%          Pekat larutan asam sulfat atau HCL 0, 0222 N 
b.      Penetapan kadar lemak
Bahan kimia yang digunakan :
o   Chloroform atau pelarut lemak lain

c.       Penetapan serat kasar
Bahan yang digunakan :
o  H2SO4 0,3 N
o  NaOH 1,5 N
o  Alcohol teknis

4.      Prosedur kerja
a.       Penetapan kadar air
Cara kerja :
o   Cawan perselin yang telah bersih di oven pada suhu 105 0C selama 2 jam.
o   Dinginkan dalam desikator selama ½ jam kemudian di timbang (a gram)
o   Ke dalam cawan porselin ditimbang lebih kurang 1 gram contoh (cawan porselin + contoh = b gram)
o   Ovenkan pada suhu 105 0c selama 8 jam atau di biarkan bermalam dinginkan dalam desikator selama ½ jam kemudian timbang (c gram)
b.      Penentuan kadar abu
Cara kerja :
o   Cawan porselin beserta contoh dalam penetapan kadar air dimasukkan kedalam tanur listrik
o   Suhunya diatur menjadi 600 0C kemudian dibiarkan 3 jam sampai menjadi abu betul ( untuk mempercepat proses pengabuan sekali-kali tanur dibuka
o   Dibiarkan agak dingin kemudian dimasukkan ke dalam desikator selama ½ jam
o   Timbang (d gram)

c.       Penetapan kadar protein
Cara kerja :
o   Timbang dengan tegramliti lebih kurang 0,5 gram contoh
o   Masukan kedalam labu khjedhal 100 ml
o   Tambahkan lebih kurang 1 gram campuran selenium dan 10 ml H2SO4 pekat teknik
o   Labu khjedhal bersama isinya digoyangkan sampai semua contoh terbatasi dengan H2SO4
o   Destruksi dalam lemari asam sampai jernih
o   Biarkan dingin kemudian tuang dalam labu ukur 100 ml di bilas dengan air suling.
o   Biarkan dingin kemudian impitkan pada tanda garis dengan air suling
o   Siapkan penampung yang terdiri dari 10 ml H3BO3 2% + 4 tetes larutan indicator campuran dalam Erlenmeyer 100 ml
o   Pipet 5 ml larutan naoh 30 % dan 100 ml air suling
o   Suling hingga volume penampung menjadi lebih kurang 50 ml
o   Bilas ujung penyuling dengan air suling kemudian penampung bersama isinya dititrasi dengan larutan hcl atau H2SO4 0,0222
d.      Penetapan kadar lemak
Cara kerja :
o   Timbang lebih kurang 0,5 gram contoh
o   Masukkan ke dalam tabung reaksi berskala 10 ml
o   Tambahkan chloroform mendekati skala
o   Tutup rapat kemudian kocok dan biarkan bermalam
o   Impitkan dengan tanda skala 10 ml dengan pelarut lemak yang sama (pakai pipet)
o   Kocok sampai homogen
o   Saring dengan kertas tissue ke dalam tabung reaksi
o   Pipet 5 cc ke dalam cawan yang telah diketahui beratnya (a gram)
o   Ovenkan pada suhu 100 0C selama 3 jam
o   Masukkan ke dalam desikator lebih kurang 30 menit
o   Kemudian timbang (b gram)
e.       Penetapan kadar serat kasar
Cara kerja :
o   Timbang lebih kurang 0,4 gram contoh ke dalam tabung reaksi tertutup
o   Tambah 30 ml H2SO4 0,3 N
o   Ekstraksi dalam air mendidih selama 30 menit
o   Tambah 15 ml naoh 1,5 n
o   Ekstraksi dalam air mendidih selama 30 menit
o   Saring ke dalam sintered glass no 1 sambil diisap dengan pompa vakum
o   Cuci berturut-turut dengan 50 cc air panas, 50 cc h2SO4 0,3 N, 50 cc air panas dan 50 cc alcohol
o   Keringkan dalam oven 8 jam atau biarkan bermalam
o   Dinginkan dalam desikator selama ½ jam kemudian timbang (a gram)
o   Biarkan dingin kemudian masukan dalam desikator selama ½ jam di timbang ( b gram)

C.     Hasil dan pembahasan
Pengenalan bahan












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar